Beasiswa?kenapa tidak...

 Pusat Info Beasiswa

Senin, 07 Oktober 2013



Islam dan Budaya Lokal di Indonesia


Pendahuluan
            Islam di Indonesia sama halnya dengan agama Hindu dan Budha, yakni agama impor. Adapun agama pribumi masyarakat Indonesia adalah kepercayaan animisme dan dinamisme yang sudah mengakar dan turun temurun.
            Awal mula kedatangan Islam ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari Arab, India maupun China, sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia merupakan wilayah strategis bagi para saudagar.
            Islam kemudian memiliki strategi khusus untuk mengajak masyarakat memeluk agama Islam, adalah walisongo yang memprakarsai strategi rekrutment manjur dengan memasukkan Islam pada unsur budaya lokal namun tentunya tetap dengan nilai yang Islami.
            Dari sini kemudian mulai gencarlah dakwah Islam dengan halus, yang pada dasarnya melalui budaya-budaya yang telah ada dalam masyarakat Indonesia.

‘Jabat Tangan’ Islam dan Budaya Indonesia
            Para saudagar muslim yang tiba di Indonesia memiliki visi awal berdagang, lalu mereka ibarat pepatah menyelam sambil minum air, mendakwahkan Islam dengan cara yang halus. Sebab mereka melihat kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat jauh dari nilai luhur, baik secara sosial masyarakat dan kehidupan beragama.
            Dalam hal sosial masyarakat misalnya, masih banyak rasisme terhadap masyarakat kecil yang dianggap tidak bermartabat, sebaliknya ada pula kaum elit yang lahir dari keadaan ekonomi yang lebih baik. Penyebabnya tidak mustahil dibawa oleh ajaran Hindu dan Budha yang menerapkan kasta dalam kehidupan.
            Adalah Sayyid Jumadil Akbar pelopor yang memiliki inisiatif untuk melakukan dakwah di Indonesia - yang kala itu masih bernama Nusantara - , walaupun sebenarnya banyak saudagar muslim sebelum dia yang masuk ke Indonesia.
            Jumadil Akbar mengawali niat baiknya itu dengan meminta bantuan pada penguasa Dinasti Utsmani yang terletak di Istanbul Turki untuk memberikan Muballigh yang akan menemani dia berdakwah.
            Maka permintaan Jumadil Akbar diamini sang khalifah dengan memberikan delapan orang terpilih yang memiliki keahlian berbeda-beda, ada yang ahli dibidang agama, perang, pengobatan dan memiliki keahlian di bidang supranatural.    Nah, merekalah yang kemudian menjadi asal-usul kelahiran walisongo di Nusantara.
            Cara dakwah mereka ialah dengan melestarikan tradisi baik yang bisa diadopsi Islam dan kemudian memasukkan nilai-nilai baru yang akan memberikan warna untuk perubahan kehidupan masyarakat.
            Hal ini tercermin dari banyak aspek, seperti membiarkan bangunan bercorak Hindu dan Budha dan membiarkan adat adanya peringatan bagi orang yang telah meninggal serta ukiran-ukiran pada batu nisan makam.
            Selain itu beberapa Sunan (julukan bagi anggota walisongo) memberikan pelajaran melalui budaya yang di gandrungi masyarakat, contohnya seni dan sastra oleh Sunan Bonang dan Sunan Drajat, wayang kulit oleh Sunan Kalijaga dan lain-lain.
            Penyebaran yang bergenre seperti ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari masyarakat, sehingga penyebaran Islam terlihat lebih instan dan mudah diterima. Sebagai data penulis akan menjabarkan beberapa contoh budaya lokal yang menjadi senjata berdakwah, misalnya kayang kulit.
            Sunan Kalijaga membumikan Islam melalui wayang kulit, sebab wayang kulit adalah pertunjukan yang sangat disenangi masyarakat. Maka Sunan Kalijaga menjalankan tradisi yang sesuai kultur masyarakat ini untuk menjaring mereka dalam perangkap baik yang bernama Islam.
            Walaupun wayang kulit pada dasarnya berasal dari kebiasaaan agama Hindu untuk menceritakan kisah Heroic dari para dewa, akan tetapi Sunan Kalijaga telah mengganti penokohan, latar, alur dan pesan sebuah kisah menjadi bernuansa Islami.
            Cerdiknya, Sunan Kalijaga membuat ucapan syahadat sebagai karcis untuk menikmati wayang yang dia prakarsai, maka otomatislah mereka yang menonton masuk Islam. Selain itu, tokoh Yudistira dewa yang memiliki azimat sakti diganti menjadi syahada yang tokoh penting yang menjamin keselamatan, dan hal ini mengacu pada kalimat syahadat yang merupakan miftahul jannah.
            Selain itu, Bima yang merupakan sosok pahlawan yang kekar, tegak dan kokoh dalam konteks Sunan Kalijaga diganti dan digambarkan dengan Shalat. Maka shalat yang merupakan tiang agama menjadi pedoman masyarakat penikmat wayang kala itu.

Penutup
            Begitulah sarana dakwah para penyebar agama Islam yang membuat Islam ‘berjabat tangan’ dengan budaya lokal. Akulturasi (percampuran dua budaya) ini kemudian menjadi senjata yang ampuh dan sukses, semoga generasi penerus mampu meneladani dan meneruskan perjuangannya.

Daftar Bacaan
Aksin Wijaya, Menusantarakan Islam (Yogyakarta : Nadi Pustaka, 2012)
Badruddin Hsubky, Dilema Ulama Dalam Perubahan Zaman  (Jakarta : Gema Insani Press, 1995)
Dudung Abdurrahman (Ed), Mozaik Sejarah Islam  (Yogyakarta : Nusantara Press, 2011)
Purwadi, Sejarah Sunan Kalijaga (Yogyakarta : Persada, 2003)
                         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

huh,