Beasiswa?kenapa tidak...

 Pusat Info Beasiswa

Rabu, 23 Juni 2010

Istima`

بسم الله الرحمن الرحيم


الحمد لله على كل نعمته, و صلى الله على محمد الذي نزل إليه لغة الجنة يعني القرأن الكريم

قبل نبحث عن هذا المسئلة (الهندسة) فلازم لنا أن نفكر و نتدبر على قوله تعالى في سورة النحل من اية (68)

يعني لماذا يذكر الله عز و جل النحل في القرأن الكريم ؟ فطبعا جوابه ليحث المسلمون على التفكير في هذا المخلوق و درسته

و قال الدكتور زيد قاسم محمد غزاوي وهو رئيس القسم الهندسة الطبية في الجامعة الهاشمية باالبريطانيا, أن الإنسان عنده النظام الجدود في الحياة مثل جعل الشيئ الملونة

مثلا في الدولة الفاطمية لبلاد المصر كان الخط و الخطاط مشهور على كل أنهاء العالم إما أن يكتب للقرطاس أو الجدار في المسجد مثل في المسجد عمرو بن العاص. و هذا عند الحاضرة من بعض الوارث الأمة المسلمين

و أما الموضوع ألذي قدم الأستاذ فاطن مشهود الماجستير في الفيديو فهو :

كما لاحظت الصانع في عصر الفاطمي ما كان يهدف للأخشاب من نتيجة حرارة و البرود ألتي تؤدي إلى تمدد و طريقة حديدة لتجتمع و التعشيق و ذالك بأن تقطع أخشاب على هيئة أشكال هندسية تثبت بجانب بعضها بعضا أو تغشق في بعضها بعضا بحيث تكون في مجموعها زخارف هندسية رائعة

و قد تزخرف وحده أو تطرق خالية من المزخرفات و توارث العرب المسلمون طريقة أزخرفات الأخشاب با الحقو توارها وألتي تتم بعد الرسمى زخارف مردد أعلى تخطاط مراد زخرفاتها وإستخدم هذه الطريقة في زجرفة مختلفة وإقتصرت هذه الطريقة في منشأة الدينية على زخارف نباتية كما حال باب جامع صالح طلائع الذي بدء الفنان في حرف الأوراق نباتية ثلاثية و خماسية علمية كما إستحدم في زخرفة خشابية التي تصنع البائكة و بطريقة أحرف أيضا

نقصات كتابات خليفة العالم للجامع الأزهار و كذالك كما الحال باالمسجد عمرو بن العاص أقدم مساجد افركيا و المدينة مثل عيران و عيراق و مصر و الصين حيث زحرت الصناعة فيها قبل الحج غير أنه لم ينحب عن تطورت هذه الصناعة و زخرفاتها على المسلم

Minggu, 13 Juni 2010

Syahr Rajb

Keutamaan Bulan Rajab

Bulan Rajab adalah bulan yang mulia dan utama. Bulan yang istimewa untuk berdoa dan bermunajat, mengadu dan menangis kepada Allah Yang Maha Agung. Bulan yang istimewa untuk mempersiapkan diri memasuki bulan yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah yaitu bulan suci Ramadhan.

Di antara keutamaan bulan Rajab di dalamnya terdapat malam Raghaib. Malam Raghaib adalah malam Jum’at pertama di bulan Rajab, malam seluruh malaikat langit dan bumi berkumpul di Ka’bah dan sekitarnya untuk memohonkan ampunan bagi kaum muslimin dan mukminin. Lebih detail tentang keutamaannya silahkan baca pernyataan Rasulullah saw tentang malam Raghaib. Selain malam Raghaib masih banyak lagi amalan dan doa-doa di bulan Rajab

Rasulullah saw bersabda:
“Bulan Rajab adalah bulan Allah Yang Maha Agung, tak ada bulan yang dapat menandingi keutamaannya. Di dalamnya diharamkan berperang dengan orang-orang kafir, karena bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan ummatku. Barangsiapa yang berpuasa sehari saja di dalamnya, maka wajib baginya memperoleh ridha Allah, dijauhkan dari murka-Nya, dan diselamatkan dari semua pintu neraka.” (Mafatihul Jinan, bab 2: 131)

Jawaban terhadap pendapat yang lain
Memang sebagian kaum muslimin tidak setuju terhadap keutamaan bulan Rajab dan amalan-amalan utama di dalamnya. Bahkan sebagian mereka mengatakan palsu hadis-hadis tentang keutamaannya dan amalan-amalan di dalamnya. Tentu kita perlu bertanya:
Apa yang dijadikan dasar untuk mengatakan palsu hadis-hadis itu? Siapa yang dijadikan rujukan mereka? Padahal para sahabat pilihan Nabi saw meriwayatkannya seperti Abu Hurairah, Ibu Abbas, Abu Said Al-Khudri, Anas bin Malik, juga Siti Aisyah isteri Nabi saw. Bahkan Bukhari dan Muslim juga meriwayatkannya. Hadis-hadis itu bukan hanya shahih, tetapi muttafaqun ‘alayh, bahkan mencapai tingkat mutawatir. Karena hadis-hadis itu diriwayatkan dari jalur Ahlussunnah dan Ahlul bait Nabi saw.

Adapun yang bersumber dari Ahlul bait Nabi saw sangatlah banyak sekali seperti bunga-bunga yang indah di musim bunga. Jika Anda ingin mengetahui hadis-hadis itu, silahkan baca kitab-kitab hadis dari jalur Ahlul Bait Nabi saw, seperti Al-Kafi 8 jilid, Al-Faqih 4 jilid, At-Tahdzib 10 jilid, Al-Istibshar 4 jilid, Al-Wasail 30 jilid, Al-Mustadrak 18 jilid, Biharul Anwar 120 jilid. Jika Anda ingin mengetahui secara lebih khusus hadis-hadis itu, silahkan baca kitab Fadhail syahr Rajab, kitab khusus tentang keutamaan bulan Rajab; dan kitab Fadhailul Asyhur Ats-Tsalatsah, kitab tentang keutamaan tiga bulan: bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Dalam dua kitab ini disebutkan para perawi hadis dari kalangan sahabat-sahabat Nabi saw berikut mata rantai sanadnya.

Banyak sekali hadis-hadis tentang keutamaan bulan Rajab dan amalan-amalannya, baik yang bersumber dari sahabat Nabi saw maupun dari Ahlul baitnya (sa). Jika demikian, apa tujuan menyatakan palsu hadis-hadis tersebut? Karena ketidaktahuan atau kesengajaan karena ta’ashshub? Siapa yang memalsukan? Dan siapa yang dijadikan rujukan untuk menyatakan palsu? Siapa gerangan yang paling mengetahui Nabi saw dan hadis-hadisnya selain Ahlul baitnya dan sahabat-sahabatnya?

Berikut ini saya kutipkan sebagian hadis-hadis yang bersumber dari sahabat Nabi saw:

Doa ketika melihat bulan sabit Rajab
Anas bin Malik berkata bahwa ketika memasuki bulan Rajab Rasulullah saw berdoa: “
Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.”

Hadis ini bersumber: Al-Faqih Abu Muhammad Ismail bin Al-Husein Al-Bukhari dari Al-Imam Abu A’la’, tahun 399 H, dari Ismail bin Ishaq, dari Muhammad bin Abu Bakar, dari Zaidah bin Abi Raqad dari Ziyadah An-Numairi dari Anas bin Malik. (Fadhail Syahr Rajab: 494)

Penetapan Nabi saw tentang bulan Rajab
Ayah dari Ibnu Abi Bakrah salah sahabat Nabi berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya zaman berputar seperti keadaan hari Allah menciptakan langit dan bumi, satu tahun adalah dua belas bulan. Di antara dua belas bulan itu adalah empat bulan mulia, tiga bulan berturut-turut Dzul-Qaidah, Dzul Hijjah dan Muharram, dan bulan Rajab yang berada di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban …”

Hadis ini bersumber dari: Syeikh Al-Hafizh Ahmad bin Ali Al-Ishfahani, dari Abu Amer Muhammad bin Ahmad dari Abbas Asy-Syaibani, dari Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dari Ayyub, dari Ibnu Sirin dari Ibnu Abi Bakrah dari ayahnya, ia salah seorang sahabat Nabi saw.
Hadis ini Muttafaq alayh, diriwayatkan oleh Muhammad bin Ismail Al-Bukhari dalam kitabnya Al-Jami’, dan Muslim bin Hujjaj Al-Qusyairi dalam Musnadnya. Semuanya bersumber dari jalur Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi.

Penamaan bulan Rajab sebagai bulan Allah
Siti Aisyah isteri Nabi saw berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan Allah …”

Hadis ini bersumber dari: Abu Manshur Zhafr bin Muhammad Al-Husaini dari Abu Shaleh Khalaf bin Ismail, dari Makki bin Khalaf, dari Nashr bin Al-Husein dan Ishaq bin Hamzah, dari Isa bin Musa, dari Ubaiz bin Quhair, dari Ghalib bin Abdullah, dari Atha’ dari Siti Aisyah isteri Nabi saw.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri, dengan mata rantai sanad: Abu Nashir bin Ahmad bin Ali Asy-Syabibi, dari Abul Hasan Muhammad bin Muhammad Al-Karizi, dari Abu Abdillah Muhammad bin Isa An-Naisaburi, dari Muhammad bin Ibrahim dari Al-Husein bin Salamah Al-Wasithi, dari Yahya bin Sahel, dari Isham bin Thaliq, dari Abu Harun Al-Abdi dari Abu Said Al-Khudri. (Fadhail Syahr Rajab: 496)

Hari-hari bulan Rajab tercatat di langit
Abu Said Al-Khudri berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Bulan Rajab adalah bagian dari bulan-bulan yang mulia dan hari-harinya tercatat di pintu-pintu langit yang keenam. Barangsiapa yang berpuasa satu di dalamnya karena dasar takwa kepada Allah, maka pintu langit dan hari itu berkata: Ya Rabbi, ampuniah dia…”

Hadis ini bersumber dari: Abu Muslim Ar-Razi dari Abu Nashr Manshur bin Muhammad bin Ibrahim, dari Tsawab bin Yazid dari Al-Husein bin Musa dari Ishaq bin Raziq, dari Ismail bin Yahya, dari Mas’ar bin Athiyah dari Abu Said Al-Khudri. (Fadhail Syahr Rajab: 497)

Keutamaan mandi sunnah di bulan Rajab
Abu Hurairah berkata bahwa Rasululah saw bersabda:
“Barangsiapa yang menemui bulan Rajab, kemudian ia mandi sunnah pada permulaannya, pertengahannya, dan akhirnya, ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya.”

Hadis ini bersumber dari: Abu Nashr bin Abi Manshur Al-Muqarri, dari ayahnya dari Abu Ja’far Ar-Razi dari Ja’far bih Sahel, dari Mahmud bin Sa’d As-Sa’di, dari Ishaq bin Yahya dari Hafsh bin Umar dari Abban dari Al-Hasan dari Abu Hurairah. (Fadhail Syahr Rajab: 497)

Puasa Nabi saw di bulan Rajab
Abu Hurairah berkata bahwa Rasululah saw bersabda:
“Aku tidak memerintahkan berpuasa di bulan sesudah bulan Ramadhan kecuali di bulan Rajab dan Sya’ban.”

Hadis ini bersumber dari: Ahmad bin Ali bin Ahmad Al-Faqih, dari Abu Amer Muhammad Al-Muqarri dari Ali bin Said Al-Askari, dari Umar bin Syabah An-Numairi, dari Yusuf bin Athiyah dari Hisyam bin Hassan, dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah.

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah saw berpuasa di bulan Rajab, sehingga kami berkata beliau tidak berbuka dan berbuka…

Riwayat ini bersumber dari: Abul Hasan Muhammad bin Al-Husein bin Dawud Al-Hasani, dari Abu Bakar Muhammad bin Ahmad, dari Abu Azhar As-Salithi, dari Muhammad bin Abid dari Usman bin Hakim dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas.
(Fadhail Syahr Rajab: 498)

Keutamaan puasa di bulan Rajab
Abdul Aziz bin Said dari ayahnya, salah seorang sahabat Nabi saw, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Bulan Rajab adalah bulan yang agung, di dalamnya kebaikan dilipatgandakan. Barangsiapa yang berpuasa satu hari di dalamnya, maka ia seperti berpuasa satu tahun. Barangsiapa yang berpuasa tujuh hari, maka akan ditutup baginya tujuh pintu neraka. Barangsiapa yang berpuasa delapan hari, maka akan dibukakan baginya delapan pintu surga. Barangsiapa yang berpuasa sepuluh hari, maka ia tidak memohon sesuatu kecuali Allah memberinya. Barangsiapa yang berpuasa dua puluh lima hari, malaikat memanggil dari langit: Dosa yang lalu telah diampuni, maka mulailah berbuat kebajikan. Dan Barangsiapa yang menambahnya, Allah akan menambah kebaikannya.”

Hadis ini bersumber dari: Abul Qasim Abdul Khaliq bin Ali Al-Muhtasib, dari Abu Muhammad Ali bin Muhtaj Al-Kasyani, dari Abul Hasan Ali bin Abdul Aziz Al-Baghawi, dari Ma’la bin Mahdi dari Usman bin Mathar Asy-Syaibani, dari Abdul Ghafur, dari Abdul Aziz dari ayahnya, dia salah seorang sahabat Nabi saw. (Fadhail Syahr Rajab: 498)

Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata: "Barangsiapa yang berpuasa satu hari di akhir bulan bulan Rajab ia akan diselamatkan dari siksaan yang berat saat sakratil maut dan azab kubur. Barangsiapa yang berpuasa dua hari di akhir bulan ini ia akan diselamatkan di shirathal mustaqim. Dan barangsiapa yang berpuasa tiga hari di akhir bulan ini ia akan diselamatkan pada hari kiamat, hari yang sangat menakutkan." (Mafatihul Jinan, bab 2 Keutamaan bulan Rajab)

Keutamaan puasa tiga hari berturut-turut
Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan mulia hari Kamis, Jum’at dan Sabtu, Allah mencatat baginya sebagai ibadah sembilan ratus tahun.”

Hadis ini bersumber dari: Ali bin Syuja’ bin Muhammad Asy-Syaibani, dari Umar bin bin Ahmad bin Ayyub Al-Baghdadi, dari Al-Husein bin Muhammad bin Ufair Al-Anshari, dari Ya’qub bin Musa Al-Madani, dari Anas bin Malik. (Fadhail Syahr Rajab: 500)

Keutamaan puasa pada hari Bi’tsah
Hari bi’tsah adalah hari Muhammad saw diangkat menjadi seorang nabi.
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa ada hari kedua puluh tujuh bulan Rajab, Allah mencatat baginya sebagai puasa enam bulan. Hari itu adalah hari Jibril turun pada Muhammad saw, awal ia membawa risalah kepadanya.”

Hadis ini bersumber dari: Abu Sa’d As-Sa’di dari Abu Nashr Muhammad bin Thahir Al-Adib, dari Muhammad bin Abdullah dari Habsyun bin Musa, dari Ali bin Said dari Dhamrah bin Rabi’ah dari Ibnu Syudzab dari Mathar Al-Warraq, dari Saher bin Hausyab dari Abu Hurairah. (Fadhail Syahr Rajab: 500)

Masih banyak lagi hadis-hadis yang bersumber dari para sahabat Nabi saw tentang keutamaan bulan Rajab. Adapun yang bersumber dari Ahlul bait Nabi saw, akan kami sebutkan di bagian amalan praktis dan doa-doa di bulan Rajab.

Wassalam
Syamsuri Rifai
http://shalatdoa.blogspot.com
http://syamsuri149.wordpress.com

Jumat, 11 Juni 2010

PilWali Surabaya

Cermin sebuah kepemimpinan
pada masa shalafusshalih
dan era kini


Dikisahkan bahwa suatu hari Umar bin Khattab berkata : sungguh aku tidak pernah ingin menjadi seorang pemimpin karena takut tidak bisa memberikan pertanggung jawaban kelak di depan tuhan, akan tetapi pernah pada suatu malam aku sangat bermimpi menjadi seorang pemimpin dengan membawa panji islam, namun hal ini bukan lahir dari insting pribadi melainkan karena aku mendengar nabi bersabda : ” esok saat peperangan aku akan menyerahkan panji islam pada seorang pemimpin yang mencintai Allah dan Rasulnya, begitu pula sebaliknya, Allah dan Rasul sangat cinta pada dia, tidak hanya itu saja nilai plusnya tapi ia akan dianugrahi tempat yang istimewa oleh pemilik semesta alam yaitu berupa istana di surga dan menjadi tetangga terdekatku ”

Maka berangkat dari sabda itulah sang sahabat yang dijuluki al faruq sangat terobsesi menjadi pembawa panji islam sampai berdoa penuh air mata demi mendapatkan predikat hubb wa mahbub dari Allah dan Rasulnya.

Sayang beribu sayang, ternyata sabda Rasulullah Muhammad tidak ’menimpa’ Umar, melainkan jatuh ketangan sahabat dekatnya yaitu Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat yang tidak hanya lihai dalam memainkan pedang tapi lihai pula dalam memainkan pena sehingga beliau mendapat gelar Baabul Ilm

Dari kisah ini tentunya kita bisa menarik kesimpulan bahwa beliau sangat hati – hati dalam mengarungi samudra kehidupan sampai dalam masa hidupnya tidak pernah menginginkan menjadi orang nomer satu sebab begitu berat pastinya beban yang akan dipikul, apalagi menyangkut masalah ummat

Nah, bila kita renungi qishah ini, sudah pasti sebagai generasi yang berilmu kita akan mampu membedakan karakter luhur yang dicerminkan oleh shalafusshalih dengan naluri masyarakat era kini yang penuh dengan nilai – nilai duniawi belaka tanpa peduli pada hasil akhir yang akan dipetik bahkan tidak menilai munaqasah di depan tuhan kelak

Telah menjadi rahasia umum bahwa seorang kandidat pemimpin pada era kini melakukan segala cara untuk saling menjatuhkan pesaingnya baik dengan cara ’putih’ maupun ’hitam’ sehingga tidak salah bila peneliti barat mengatakan bahwa dalam usaha meraih kemenangan, seorang kandidat mesti melakukan unsur – unsur seperti : black campaign, money politik, door to door provocation hingga give a sweet moment pada rakyat yang menjadi target dalam meraup suara maksimal

Dalam fenomena ini yang lucu adalah rakyat yang merupakan ’raja’ ketika ada pesta demokrasi ikut – ikutan melakukan tindakan konyol dengan mau di politisi oleh para calon tersebut, seperti contoh ketika rakyat memilih tidak dengan hati nuraninya sendiri demi terbentuknya masyarakat madani (meminjam istilahnya mantan presiden BJ. Habibi) dengan mencoblos calon pemimpin yang paling banyak memberikan ’amplop’ pada mereka, padahal mereka semua mengetahui bahwa tindakannya sangatlah tercela bahkan tidak sedikit yang faham dalil sabda Rasul : ” orang yang memberikan sogok dan menerima sogok adalah penghuni neraka ”

Intinya, bagaimana bangsa ini menjadi lebih baik bila segala cara digunakan untuk kepentingan sepihak belaka?

Mahasiswa sebagai pengemban amanah dan sangat lekat dengan istilah agent of change dan agent of sosial tentunya memiliki rasa tanggung jawab serta peduli pada keadaan yang semakin ora karu – karuan ini dengan mengubah tradisi yang sudah sangat mengakar dalam tubuh negeri tercinta Indonesia

Maka dalam hal ini sepertinya sangat layak bila saya qiaskan petuah dari Imam Syafi`i sebelum beliau berangkat thalabul ilm, Yakni : sebuah air yang ada dalam bak mandi akan mengeruh dan tak enak dipandang bila air tersebut tidak mengalir. Artinya kita sebagai mahasiswa yang berilmu sangat wajib mengamalkan ilmu yang kita miliki untuk mengubah kemiskinan moral dan sosial pada negeri ini agar tercipta keadaan yang menjadi cita – cita luhur patih gajah madha gemah ripah loh jinawi dan menjadi pengamal tridharma perguruan tinggi seperti belajar, meneliti (baca : mengamati keadaan ) dan mengabdi pada masyarakat

Be eM

Malam itu Inbox HPku berdering, lantunan merdu barakallahnya Maher Zain menggema membangunkan lamunanku. "tolong tuliskan artikel untuk buletin Mediasi HMI Fak. Adab IAIN Surabaya" pesan dari kawan Sholeh -- si aktifis ALBA -- telah ku baca dengan cepat.


"saya kurang lihai dalam tulis menulis" balasku singkat. "wah, ayo dunk akh! dan kalau bisa temanya Kebangkitan, sebab besok momemtum kebangkitan nasional" sholeh membalas plus dengan bumbu paksaan.


"Okelah, saya tulis dulu". balasku serius


Akhirnya coretan kecil itu ada didepan anda sekarang, selamat membaca:


Membentuk Nahdlatul Ummat demi tercapainya Ni`matul Ummat


Perlu kita ketahui bahwa Kebangkitan nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting, yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Tokoh-tokoh kebangkitan nasional, antara lain: Soetomo, Gunawan, Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryoningrat (Ki Hajar Dewantara) dan tokoh-tokoh lainnya

Melalui coretan kecil yang tersusun tepat pada momen hari Kebangkitan nasional, saya berharap tulisan ini mampu membangunkan tidur panjang masyarakat Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya. Terutama pada generasi mahasiswa yang semakin hari semakin dipertanyakan pula nilai–nilai perjuangannya terhadap pembangunan bangsa dan keikutsertaannya dalam mencerdaskan rakyat Indonesia.

Melalui momentum Hari Kebangkitan nasional, hendaknya kobaran semangat harus disampaikan pada penerus bangsa ini (baca: mahasiswa), sebab aroma keilmuan yang mesti dituangkan pada pengabdian dan pergerakan seakan–akan terkikis dan hilang karena kecenderungan terlena dalam lembah hayalan dan status quo belaka.

Hati saya sering menangis kala teringat mengikuti LK Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) karena pertanyaan seorang kanda—Soekarno pada waktu umurnya belasan tahun sudah menjadi sekretaris Jong Java, Soedirman pun yang ketika itu masih belia sudah sering memimpin peperangan dan Hatta dengan umur yang sejagung pula sudah mampu menyiapkan kemerdekaan serta kegigihan tokoh lain dalam menggagas berdirinya Republik Indonesia yang merdeka dari berbagai macam bentuk penjajahan. Lantas apa yang bisa kalian lakukan ????. Ibarat disambar petir kalimat kanda tadi terus menjadikan cemeti semangat dalam batin kami para kader

Sejak saat itulah saya yakin dan ingin merasakan bagaimana kebangkitan jiwa perjuangan Nurcholis Madjid ketika konsepnya untuk mencerdaskan bangsa ditolak para kelompok yang kurang setuju pada opininya; saya juga ingin merasakan bagaimana kebangkitan Soekarno ketika membacakan teks Proklamasi yang disambut haru jutaan rakyat; ingin pula saya rasakan kebangkitan Imam Bukhori ketika mengembara mencari hadits dan keabsahannya hanya demi perubahan kehidupan, menyusuri pedalaman dan perkotaan dari kota Bukhara` sampai ke pinggiran Madinah; saya sangat ingin juga merasakan kebangkitan Muhammad al Fatih ketika berhasil menaklukkan Istanbul; kebangkitan Umar al Faruq ketika memperluas wilayah Islam pun ingin saya rasakan. Tidak hanya itu, semangat kebangkitan Muhammad ketika berhasil menjadikan masyarakatnya menjadi masyarakat madani, juga menjadi keinginan besar saya.


Tentunya bukan hal yang sangat mudah untuk membentuk sebuah keberhasilan dengan modal kebangkitan saja, namun memerlukan sejuta perjuangan lain agar tercipta mimpi yang pernah menjadi kembang kehidupan dari seluruh elemen masyarakat ini. Bukan saja pemerintah yang menjadi nahkoda, akan tetapi peran para kaum akademisi juga sangat berpengaruh, peran para aktifis juga harus digalakkan serta peran kita sebagai mahasiswa yang mempunyai amanah sebagai agent of change sangat menentukan nasib Indonesia seperti sebuah petuah yang luar biasa “ pemuda hari ini adalah pemimpin pada hari kemudian”

Kenyamanan hidup yang menjadi tujuan bersama sebuah Negara tidak akan pernah tercapai kecuali dengan kebangkitan bersama seluruh lapisan masyarakatnya, kemakmuran senantiasa akan dirasakan bila masyarakat bangkit dan sadar dalam melakukan segala bentuk aktifitasnya, kedamaian akan terwujud andai pihak pihak yang merasa selalu kurang faham bahwa mereka mesti bersyukur atas apa saja yang telah mereka dapat dengan bercermin kebawah,bukan sebaliknya, toleransi akan semakin berwarna apabila cacian, makian dan rasa iri tidak menjadi tolak ukur sebuah kehidupan

Akhirnya, saya teringat pada wasiat seorang Montaigne : masyarakat itu agaknya gila. Ia mustahil dapat menciptakan seekor ulat sekalipun, tapi mereka bisa menciptakan lusinan tuhan. Artinya, dengan keangkuhannnya, manusia memang sulit sekali menciptakan sebuah keserasian dalam ama` ma`ruf dan nahi munkar, namun dengan rasa kebangkitan, pasti mereka akan mampu berbuat yang lebih baik untuk kehidupan pada masa berikutnya, jadi tidak pernah akan tercipta sebuah ni`matul ummat kecuali diawali dengan nahdlatul ummat

Senin, 07 Juni 2010

Hayy Ibn Yaqdzan

Salam sejahtera disampaikan pada pembaca, khususnya kawan-kawan BSA 08 yang sedang memasuki detik-detik UAS, kebetulan saya membaca dan mengkaji novel Innova, hehehe. jadi ini sepenggal inti kisah dari hayy ibn yaqdzan
Buku ini dibuka dengan penjelasan pengarangnya mengenai tujuan penulisan romannya. Ibn Tufayl mengatakan bahwa karyanya itu ditulis untuk menjabarkan falsafah Masyriqiyah Ibn Sina. Pada peringkat epistemologi dan metafisika, pencapaian pengetahuan dalam falsafah Masyriqiyah mirip dengan tasawuf atatau mistisisme illuminatif. Pengetahuan yang ingin dicapai ialah pengetahuan illuminatif atau kasyf, yaitu tersingkapnya penglihatan kalbu dari hijab yang menghalangi seseorang menyaksikan keberanan hakiki. Walaupun ada kemiripan, falsafah Masyriqiyah berbeda dari tasawuf. Dalam yang pertama, pengetahuan dapat dicapai melalui pemikiran spekulatif falsafah bukan melalui disiplin kerohanian seperti dalam tasawuf. Namun karena keadaan dan pengalaman kerohanian yang dicapai itu sukar diuraikan secara diskursif sebagaimana dalam bahasa falsafah secara umum, maka Ibn Tufayl menggunakan kisah perumpamaan atau alegori untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan pencapaian illuminatif dalam falsafah Masyriqiyah itu.
Di tengah lautan luas, di pulau terpencil yang tidak terlalu subur, hiduplah seorang anak lelaki bernama Hayy bin Yaqzan alias Urip bin Sadar. Anak itu telah dibuang oleh ibunya ketika masih bayi dengan memasukkan ke dalam sebuah peti dan kemudian menghanyutkan peti itu ke sungai, sehingga Hayy terdampar di pulau Waqwaq yang terpencil itu. Ibunya terpaksa membuang anaknya karena kuatir dimarahi abangnya, sebab secara diam-diam dia kawin salah seorang kerabat dekatnya tanpa persetujuan dan pengetahuan abangnya. Seekor rusa betina merasa kasihan melihat bayi mungil dalam peti itu, dia ingat pada anaknya yang sudah mati beberapa waktu yang lalu. Rusa itu kemudian memelihara Hayy. Hayy bin Yaqzan ternyata tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat, serta dapat bersaing dengan binatang lain dalam berburu binatang kecil untuk santapannya. Namun ketika pikirannya mulai tumbuh, ia sadar betapa besar perbedaan dirinya dengan binatang-binatang lain di sekelilingnya. Misalnya saja ia menyadari sementara binatang lain berbulu, dia tidak berbulu. Untuk itu dia berusaha menutupi badannya dengan daun-daun, kulit kayu dan akhirnya kulit binatang hasil buruannya. Ia juga menyadari bahwa hewan lain memiliki senjata alami untuk mempertahankan diri ancaman, sedang dia sebagai anak manusia tidak. Maka ia pun mulai berusaha membuat senjata.
Kini usianya mencapai tujuh tahun. Tingkat pengetahuan dan kesadarannya sudah demikian berkembang. Begitu juga tehnik yang dikuasai dalam membuat pakaian dan senjata. Dia mengenakan tiga hilai daun lebar yang halus dan kulit hewan untuk menutupi tubuhnya serta menjaganya dari sengatan udara dingin dan panas. Pada suatu hari ibu angkatnya meninggal dunia. Perasaannya terpukul. Ia ingin tahu apa rahasia kematian. Tubuh rusa yang mati itu dibedahnya untuk mengetahui apa penyebab kematiannya. Ia mengetahui bahwa kematian iu secara badaniah disebabkan berhentinya denyut jantung. Setelah merenung lebih jauh ia pun mengetahui bahwa kematian disebabkan terpisahnya badan dari roh.. Kini ia mulai menyadari tentang adanya asas hayat yang disebut roh itu.
Setelah mengetahui bahwa kematian tidak langsung menyebabkan tubuh rusak, ia menyimpulkan bahwa kematian tidak lain hanyalah akibat retaknya persatuan antara Jiwa dan Tubuh. Begitulah melalui cara berpikir spekulatif, menggunakan akal murni, Hayy bin Yaqzan mengenal rahasia kematian.
Pengetahuan penting kedua setelah mengetahui rahasia kematian ialah pengetahuan tentang api dan kegunaannya dalam kehidupan. Dalam sejarah peradaban manusia perubahan besar dimulai dengan penemuan api. Dengan mengetahui cara membuat api dan mendayakan kegunaannya, Hayy bin Yaqzan mulai mampu membuat alat-alat yang diperlukan untuk mempertahan dan mengembangkan hidupnya termasuk membuat senjata. Perubahan ini pula yang kian menyadarkan betapa manusia berbeda dari hewan lain. Ia mulai mengetahui apa artinya cuaca dan suhu udara. Penelitian empiris sangat dimungkinkan terjadi sejak api didayagunakan untuk membuar peralatan. Hasil-hasil penelitian empiris itu pada gilirannya membantu Hayy bin Yaqzan untuk melangkah lebih jauh menapaki pengetahuan yang bersifat kerohanian.
Jika hendak diringkas sejak ibu angkatnya mati ingá mengenal rahasia dan kegunaan api, maka ada dua bentuk pengetahuan yang dicapainya kini. Satu ialah kesadaran bahwa kehidupan makhluq itu tersusun dari dua asas: (1) anasir-anasir jasmani dan (2) bentuk jasmani yang tersusun rapi. Pada makhluq bernyawa bentuk yang tersusun kompleks itu bisa disebut sebagai Jiwa (al-nafs), yang merupakan asas utama kehidupan makhluq bernyawa dan pada hakekatnya bukan merupakan obyek penelitian inderawi. Ia hanya bisa ditelaah melalui pemikiran akliyah atau rasional. Demikianlah Hayy menyadari bahwa daya-daya jiwa yang kompleks itu merupakan sifat-sifat yang menentukan kehidupan makhluq bernyawa.
Pada usia dua puluh tujuh tahun pengetahuan yang dicapai Hayy bin Yaqzan ternyata lebih tinggi lagi. Semua itu dicapai melalui daya upaya akal murni yang ada pada dirinya dan merupakan kemampuan rohani yang terpendam dalam setiap diri manusia. Dia mulai memikirkan benda-benda di angkasa yang luas tak terkira. Ia menemukan bahwa terdapat bintang-bintang dan planet yang tidak dapat musnah. Melalui pengetahuan tentang bintang-bintang di langit dia mulai mengetahui bahwa di belakang tabir kehidupan segala sesuatu di alam semesta ini ada Pencipta (Khaliq). Namun bagaimana keberlangsungan alam semesta bisa terjadi, Hayy bin Yaqzan tidak dapat memberikan kesimpulan apa-apa. Namun pada akhirnya dia mengerti bahwa persoalan tentang keabadian dan kesementaraan dunia tidak dapat dipecahkan dengan metode burhani atau pembuktian, khususnya dengan mencari hukum sebab akibatnya.
Dari perenungan terhadap rahasia alam semesta ini Hayy bin Yaqzan naik ke tahap pengetahuan beributnya. Ketika usianya beranjak tiga puluh tahun ia mulai merenungi keindahan dan tatanan alam yang teratur sebagai bukti tentang adanya penciptaan terencana di sebalik semua peristiwa dan kejadian. Jika memang ada Pencipta di balik semua itu, tentulah dia harus memiliki sifat-sifat yang sempurna dan bebas dari hal-hal lain di luar dirinya serta Maha Tahu, Tidak Terhingga dan Maha Indah.
Untuk menjawab persoalan-persoalan yang secara deras bermunculan dalam pikirannya, ia berusaha melakukan penyelidikan lebih mendalam sehingga akhirnya sampai ke tahap pengetahuan yang tinggi, yaitu pengetahuan tentang Wujud Tertinggi yang nirbendawi (immaterial) dan tanzih (transenden). Ia menyimpulkan bahwa pengetahuan seperti itu tidak dapat diperoleh melalui daya-daya jasmani seperti penginderaan, tetapi melalui daya-daya jiwa yang berbeda dari daya-daya jasmani sebagaimana jiwa berbeda dari jasmani. Daya-daya jiwa ini bisa memperoleh pengetahuan yang lebih asasi dan hakiki karena jiwa merupakan asas dan hakikat hidup manusia yang sejati. Jiwa lebih unggul atas segala yang bersifat bendawi dan bebas dari proses pembentukan dan kehancuran yang dialami tubuh jasmani. Pada tahapan ini Hayy bin Yaqzan mulai menyadari bahwa hanya Jiwa yang damai dan bahagia yang dapat berhubungan eray dengan Wajib al-Wujud (Wujud Niscaya), yaitu Tuhan Yang Satu dan Maha Besar. Ia kian jauh mengembara dalam dunia perenungan sehingga mengetahui bahwa sasaran terakhir pengetahuan ialah Wujud Nscaya.
Kaedah atau metode yang digunakan Hayy bin Yaqzan ialah instropeksi atau penyelidikan ke dalam diri menggunakan akal murni. Melalui kaedah ini dia sampai pada pengetahuan tentang hakikat diri yang sejati. Kini ia pun menyadari pertalian dirinya dengan tiga hal: (1) Alam hewan. Seperti kehidupan hewan dalam diri manusia ada tatahan kehidupan yang bersifat hewani; (2) Benda-benda langit di jagat raya. Dalam diri manusia juga terdapat alam serupa itu yang memungkinkan manusia berhubungan dengan semua hal di alam semesta. Peralatan yang menghubungkan itu ialah akal dan imaginasi.; (3)Wujud Niscaya, yang merupakan hakikat sejati diri manusia. Manusia terhubungkan dengannya melalui kasyf atau pengetahuan illuminatif.
Sebagai buah dari pengetahuan yang diperolehnya itu Hayy bin Yaqzan mampu meliliki tiga kepandaian sekaligus, yaitu (1) Cara memelihara tubuh dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya; (2) Dapat merenungi segala sesuatu yang tidak bisa dicapai dengan pengetahuan inderawi, tetapi dengan akal dan imanigasi. Pengethuan tentang hal itu semua mencapai puncaknya pada pengetahuan tentang Tuhan; (3) Cara berhubungan dengan Wujud Tertinggi melalui tafakur dan ibadah. Menurut Hayy bin Yaqzan , jiwa tidak akan pernah kehilangan sifat-sifatnya kecuali renungannya tentang Tuhan mencapai kesempurnaan. Renungan bisa sempurna apabila jiwa mengalami penyatuan dan hapus (fana’) dalam Diri Hakiki, sebagai respresentasi Wujud Tertinggi dalam kesadaran terdalam manusia.
Tidak lama kemudian sesudah itu datanglah ke pulau Waqwaq seorang ahli tasawuf bernama Absal. Tidak lama kemudian Hayy bin Yaqzan menjalin persahabatan dengan Absal, manusia lain pertama yang ia jumpai dalam hidupnya. Absal kemudian mengajarkan bahasa kepada Hayy bin Yaqzan. Setelah dapat berbicara Hayy menuturkan pengalaman hidup dan pengetahuan yang diperolehnya selama ini. Persahabatan menjadi semakin akrab karena Absal pun sebenarnya sedang meneliti hal yang sama dalam hidupnya. Pengetahuan yang dicapai Hayy bin Yaqzan semakin memperkuat keyakinan Absal terhadap akidah yang selama ini dia pegang teguh.
Absal lantas mengajak Hayy supaya menyebar luaskan ajarannya kepada penduduk di pulau lain yang merupakan tempat kelahiran Hayy. Hayy menyetujui ajakan itu, lantas mereka pergi ke pulau yang dimaksud. Malangnya pengajaran yang disampaikan Absal dan Hayy kurang memperoleh penerimaan dar penduduk, yang púas dengan pengetahuan rendah. Karena itu keduanya lantas meninggalkan penduduk dan kembali ke pulau Waqwaq untuk melanjutkan perenungannya tentang hakekat Wujud Tertinggi.