Beasiswa?kenapa tidak...

 Pusat Info Beasiswa

Kamis, 28 November 2013



Dilema Antara Khilafah Dan Monarki

Pendahuluan
            Dalam setiap generasi pasti ada pemimpin yang menjadi kiblat dan patokan kelompoknya, pada masa Jahiliyah misalnya, Suku Qurays merupakan pemimpin bangsa Arab. Adapun dalam Islam, hal ini sudah ada dan lestari sejak nabi Adam, tepatnya ketika Allah berfirman ; Inni ja`ilun fil ardhi khalifah, aku akan menciptakan pemimpin dimuka bumi ini.
            Pemimpin dalam konsep Islam bukanlah raja diraja yang menguasai seluruh element kehidupan, akan tetapi pemimpin adalah pelayan dari ummatnya, seperti qaul, sayyidul qaumi, khadimuhum.
            Adalah pasca kewafatan Rasulullah SAW, mercusuar khalifah sangat di junjung tinggi, Abu Bakar As-shiddiq merupakan khalifah pertama, beliau di pilih rakyat karena ittiba` pada perintah Nabi saat Abu Bakar dipercaya menjadi badal saat memimpin Shalat.
            Sepeninggal Abu Bakar, terpilihlah Umar al-farouq, Utsman Dzunnurayn dan Ali bin Abu Thalib menjadi khalifah, dan hal ini dilakukan secara bermusyawarah melalui tim yang memang dibentuk oleh majelis sahabat senior.
            Akan tetapi setelah periode kepemimpinan empat khulafa`urrasyidin ini, timbulah sistem kerajaan atau monarki (baca pula ; dinasti), hal ini dipelopori oleh Mu`awiyah bin Abi Sufyan melalui dinasti Umayyah dan berlanjut ke dinasti Abbasiyah dan kerajaan-kerajaan kecil setelahnya.
Peralihan Dari Khilafah Menjadi Monarki
            Setidaknya ada lima alasan mengapa Khilafah menjadi alternatif yang baik bagi proses pemerintahan. Pertama, kedaulatan dan kekuasaan bukanlah mutlak milik pribadi, namun lebih pada tanggung jawab yang harus dipenuhi sebagai wakil dari rakyat. Kedua, kepemimpinan diterapkan tidak hanya pada satu daerah saja, namun pada semua wilayah yang beragama atau berbai`at pada pemimpin yang di sepakati. Ketiga, tidak memberi kesempatan adanya diktatorism dalam sebuah orde. Keempat, ada freedom opinion atau sistem demokrasi yang bisa melahirkan toleransi sejati, dan terakhir yang kelima, senantiasa harmonisasi antara kehidupan individual kolektif dan kemajemukan.
            Akan tetapi, seiring berputarnya roda kehidupan, banyak para pemimpin yang menginginkan dirinya berkuasa seumur hidup dan bahkan parahnya lagi membuat pemerintahan secara genetik, artinya turun temurun tanpa melihat kualitas dan kuantitas yang ada pada diri dan penggantinya.
            Peristiwa pengangkatan Yazin bin Mu`awiyah menjadi amirul mu’minin merupakan awal mula dari monopoli pemerintahan. Padahal hal ini tidak pernah dicontohkan oleh generasi sebelumnya, kecuali pada sistem pemerintahan kekaisaran Romawi, Persia, Byzantiunm dan mamlakah Habasyah.
            Maka faktor terdepan yang memungkinkan beralihnya sistem Khilafah pada Monarki jelas terletak pada politik, utamanya tahta dan harta. Dan hal ini sesuai dengan ramalan Nabi ; Masa Khilafah setelahku hanya berlangsung 30 tahun, selepasnya akan lahir masa kerajaan.
Dampak Perubahan Dari Khilafah Menjadi Monarki
            Beberapa sejarawan menyebutkan beberapa pengaruh lahirnya sistem monarki dalam kepemerintahan dan dampak perubahan yang terjadi, diantaranya adalah ;
a.       Gaya Hidup Para Penghuni Istana
b.      Perubahan Pengelolaan Baitul Maal
c.       Hilangnya Kebebasan Berargumentasi
d.      Munculnya Kefanatikan Golongan (Klanisme)
            Selain itu, ‘kaum muslimin seperti anak ayam yang kehilangan induknya’, sebab Khilafah yang berkarakter pemimpin adalah pimpinan di bidang agama dan pimpinan politik tidak lagi di temukan.  
            Para raja hanyalah mereka yang menikmati harta, jabatan dan wanita serta hanya pedulii pada eklektabilitas perluasan wilayah serta mengantisipasi serangan musuh. Para raja tidak lagi menjadi pelindung dan pelayan masyarakat seperti pada masa khulafa`urrasyidin.
            Dalam sisi lain, ada beberapa nilai positif dari sistem monarki, seperti pemerintahan yang dibangun oleh Umar bin Abdul Aziz atau Harun Arrasyid. Akan tetapi minusnya lebih banyak, sebab tidak jarang penerusnya malah merusak nilai – nilai dan khazanah yang telah dibangun sebelumnya.

Penutup
            Sebagai penutup, layak rasanya jika penulis menceritakan dialog antara sahabat Ali bin Abi Thalib di akhir hayatnya dengan seorang pembesar yang mencoba menghina finishing kepemimpinan Ali yang bisa dikatakan tidak sebaik generasi sebelumnya.
            Saat tu si pembesar bertanya :  Ya Abal Hasan, mengapa keadaan masyarakat saat anda pimpin tidak lebih baik dari masa sebelumnya? Bukankah anda adalah seorang negarawan dan ilmuan sejati?
            Ali dengan santai menjawab : Karena dulu umatnya sebaik aku, sedangkan saat aku memimpin, ummatnya seburuk kamu.
            Bisa ditarik kesimpulan, bahwa kepribadian dan karakter akan mengubah segalanya, bahkan bisa lupa daratan. Wallahu a`lam.

Daftar Bacaan
Abul A`la Al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan  (Bandung : Mizan, 1993)
Ibnu Atsir, Al-Kaamilu Fit Tariekh  (Kairo : Muniriyah, 1356 H)



Bahasa Arab ; Tidak Sekedar Bahasa Surga, Tapi Bahasa Dunia


Pendahuluan
            Sejak lama, bahasa Arab adalah bahas internasional sebab semenanjung Arab merupakan pusat perdagangan yang sering dilalui oleh para saudagar dari belahan dunia manapun, seperti pedagang dari China, Syams, Byzantium dan Romawi.
            Maka lazimlah bila penyebaran bahasa Arab sangat pesat, selain karena jalur perdagangan, faktor keberadaan Ka`bah yang fenomenal yang sering dikunjungi wisatawan saat itu tidak kalah dengan sekarang. Artinya Bahasa Arab merupakan bahasa wisata juga. Terlebih lagi setelah Islam datang dan pondasi ajarannya memproklamirkan diri dengan bahasa Arab.
            Akan tetapi, Arab yang sangat luas tentulah memberikan pengaruh pada varian bahasa, terutama perbedaan dialek antara wilayahnya.

Menguasai Bahasa Arab Seperti Menguasai Dunia
            Di masa Jahily, tidak ada kemahiran yang bisa melebihi kemampuan berbahasa Arab, bahkan para raja di seluruh dunia berusaha belajar bahasa Arab melalui penerjemah pribadi kerajaan, sebab banyak kepentingan yang harus dilalui melalui bahasa Arab.
            Seperti di singgung pada pendahuluan tulisan ini, yang menyebutkan bahwa perdagangan dan wisata merupakan magnet tersendiri bagi kehidupan dunia. Selain itu tradisi dunia yang sedang ekstrim dengan romantisme sastra juga berawal dari Arab, dimana pasar Ukazz dan beberapa lingkaran penyair menjadi kiblat bagi penikmat sastra. Dan kebudayaan memiliki juru bicara yang pandai merupakan kewibawaan tersendri bagi setiap kabilah.
            Maka saat itu, bahasa Arab mencapai puncaknya, bahasa Arab menjadi primadona dan bahasa Arab bahkan terkadang menjadi sangat angkuh karena siapa yang tak menguasainya akan terpojok dan tak bertuan.

Bahasa Arab Yang ‘Melangit’
            Pasca menyebarnya Islam diseantero alam, bahkan sepertiga dunia. Bahasa Arab semakin besar. Faktornya ialah karena setiap nash dan apapun yang ‘berbau’ Islam pasti menggunakan bahasa Arab. Terlebih ketika Rasul bersabda ; Aku mencintai bahasa Arab karena aku adalah orang Arab, dan karena Quran diturunkan dalam bahasa Arab, Serta karena ahli surga kelak akan berbahasa Arab. Tidak hanya itu, ada juga qaul yang berkata ; Ta`aalumul arabiyyata, waallimuuhannaas. Belajarlah bahasa Arab, maka engkau pasti menjadi manusia paling berintelektual.
            Puncaknya, bahasa Arab merajalela saat masa dinasti Umayyah, dimana semua unsur yang ada harus menggunakan tradisi Arab, mulai dari penggunaan bahasa resmi, bahkan pejabat negarapun harus berasal dari orang Arab.
            Pada era ini pula muncul langkah penerjemahan semua disiplin keilmuan kedalam bahasa Arab, sehingga sumber ilmu yang berasal dari berbagai bahasa telah dimiliki dan bisa dipelajari dengan bahasa Arab.
            Ilmuan dan pustaka Arab meroket, sampai hari ini banyak tokoh dan teks Arab yang berasal dari generasi Umayyah ini masih lestari dan menjadi pijakan dalam aspek intelektual muslim dan Barat.
            Namun, perlu diketahui, bahwa Arab tetaplah Arab yang angkuh, Arab yang berlomba-lomba untuk saling menguasai bahkan dalam aspek bahasa. Sehingga kemunculan varian bahasa Arab menjadi corak tersendiri. Ada dialek Yaman, dialek Mesir dan Hijaz.
            Dan dengan asbab perbedaan itu, serta seiring kemajuan tekhnologi dan perkembangan zaman, bahasa Arab mulai renta, sudah seperti harimau yang tak bertaring, sebab generasi muslim tidak lebih maju, mereka terkesan defensif, tidak seagresif ilmuan Barat yang terus membara dalam mencari kemajuan dan menciptakan peradaban.

Penutup
            Perlu kiranya penulis mengutip perkataan Adams, dia menyatakan bahwa apapun yang ada di dunia ini, baik peradaban, ekonomi, kekuasaan dan lain-lain akan berjalan diatas 4 rel kehidupan. Yakni lahir, berkembang, jaya dan mati. Begitupula bahasa Arab dengan segala kebesarannya. Entahlah kita berada pada rel ke berapa, perlu di catat oleh sejarah esok.

Daftar Bacaan
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam  (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1998)
Burhan Djamaluddin, Sejarah Sastra Arab  (Surabaya : Adab Prees, 1999)
Djuwairiyah Dahlan, Tarikh Adab Araby  (Surabaya : Jauhar, 2010)
           


Epistomologi Konjektur dan Falsifikasisme Karl  Raimund Popper
Serta Relevansinya Terhadap Pemikiran Islam


Pendahuluan
            Epistomologi yang berarti pengetahuan sebagai cabang filsafat yang ruang lingkupnya adalah cara memperoleh pengetahuan selalu asyik untuk dibicarakan, bahkan tidak akan pernah ada ujungnya, pun tak akan pernah menemukan kata the end.[1]
            Adalah Karl Popper, pelopor teori Falsifikasisme yang belakangan meramaikan dunia filsafat dengan kontroversinya menentang teori rasionalisme dan empirisme, namun ternyata dia juga tidak mau kehilangan realita yang ada bahwa bagaimanapun teori rasionalisme dan empirisme memiliki sumbangsih pula dalam roda filsafat.
            Moderat merupakan istiliah yang sangat cocok bagi pemikiran Popper, dan hal ini kemudian memberikan pemahaman pada kita bahwa sebenarnya pemikiran Islam justru telah lebih dulu ‘menari dengan romantis’ melalui istilah al-muhaafadhatu `alaa qadim al-shalih, wal akhdu bi al-jadiid al-ashlah ; melestarikan tradisi lama yang baik dan mengadopsi nilai-nilai modern yang relevan.
            Hal ini menjadi menarik bagi kita untuk digali lebih dalam mengenai sinkronisme antara pemikiran Popper dan pemikiran Islam.

Biografi Karl Popper
            Karl Raimund Popper lahir di Himmelhof, Wina, Austria, pada 28 Juli 1902. Ayahnya adalah seorang pengacara yang menaruh minat besar pada filsafat dan ilmu-ilmu sosial, sementara ibunya adalah seorang yang sangat mencintai musik.
            Sejak kecil ketertarikan popper terhadap dunia intelektual sudah terbentuk, sebab dia telah konsisten membaca koleksi buku ayahnya, puncaknya pada saat berusia 20 tahun dia secara resmi di terima menjadi mahasiswa di Universitas Wina.
            Ketika Popper studi di universitas, Eropa sedang goncang. Terlebih negaranya yang runtuh akibat Perang Dunia I. Segala aspek kehidupan memburuk secara drastis, sehingga kelaparan dan kerusuhan terjadi. Peristiwa ini cukup membekas pada Popper, sehingga sejak itu topik tentang kebebasan menjadi sentral dalam filsafat sosial politiknya.[2]
            Pada tahun 1937 Popper dan istrinya pergi meninggalkan Austria untuk mencari kehidupan yang lebih berwarna. Popper pergi ke Selandia Baru dan mengajar filsafat di Canterbury University College.
            Kemudian Setelah Perang Dumia II berakhir, Popper pindah ke Inggris untuk mengajar di London School of Economics (LSE).
            Sejak itu pengaruh Popper meluas cepat. Setelah resmi pensiun pada 1969, Popper tetap aktif menulis dan memberikan kuliah, termasuk beberapa kali kunjungan ke berbagai negara, sampai akhirnya meninggal pada tahun 1994.[3]
           
Kemunculan dan Teori Falsifikasi
            Pada hakikatnya, tiap ada teori yang muncul, pastilah ada teori lain yang akan lahir, bahkan terkadang menumbangkan teori yang lama, atau terkadang malah menguatkan teori yang sebelumnya.
            Hal ini telah terjadi sejak zaman Yunani kuno, dimana diskusi mulai marak dan para ilmuan mulai mencari hakikat kebenaran, tak heran bila kemudian Plato memberikan tanda tanya besar pada ilmuan tentang bagaimana dan seperti apa kebenaran yang nyata. [4]
            Pada periode modern, Descartes mencetuskan teori rasionalisme. Pandangan ini kemudian dikenal sebagai pandangan Cartesian, rasionalisme mendasarkan diri pada prosedur berpikir dengan akal atau rasio. Descartes percaya bahwa pengetahuan rasional bersifat mutlak dan berlaku universal.
            Sebagai reaksi tidak setuju terhadap pandangan Cartesian, munculah teori tandingan yang bernama empirisme. Tokoh utamanya adalah John Locke. Berbeda dengan rasionalisme yang mendewakan akal, empirisme lebih berorientasi pada sesuatu yang inderawi dan mesti bisa dicerna dahulu.
            Kemudian berawal dari dua teori yang saling bertolak belakang ini, Popper menawarkan jalan tengah dengan menawarkan teori falsifikasi. Akan tetapi, perlu diketahui bersama bahwa sebenarnya sebelum Popper memprolamirkan falsifikasi, sudah ada ilmuan lain yang menawarkan jalan tengah yang sama, yakni Immanuel Kant. Kant yang juga berusaha mengatasi rasionalisme dan empirisme memiliki beberapa perbedaan pendapat dengan Popper, khususnya dibidang apriori, yaitu pengetahuan yang ada sebelum pengalaman.
            Maka jalan alternatif dan kontroversi yang dilakukan Popper pertama, dengan menyelamatkan rasionalsme dengan catatan rasionalisme meski memiliki landasan yang kritis, artinya penggunaan akal sebagai azas utama mesti prosedural dan tidak asal-asalan. Kedua, mempertahankan empirisme dengan persyaratan penggunaan inderawi sebagai landasan berpikir harus menggunakan standart yang absah.
            Jadi teori falsifikasi sebagai tawaran mutlak memiliki visi ; saat ada bukti yang lebih kuat, maka teori pengetahuan lama otomatis terbukti salah. Akan tetapi bila ternyata bukti yang baru lebih lemah, otomatis pengetahuan lamalah yang kuat. Dan hal ini wajib dilalui dengan uji kelayakan yang meyakinkan.[5]
            Dalam referensi lain, akar permasalahan Popper memprakarsai falsifikasisme ialah adanya perselisihan antara David Hume (1711-1776) dan Immanuel Kant (1724-1804).
            Hume berpendapat bahwa pengetahuan itu ibarat papan tulis, artinya kita mesti memiliki eksperimen untuk menuliskan sesuatu di papan tulis itu, sedangkan Kant berasumsi bahwa kita memiliki kerangka bawaan yang bisa dihasilkan dari genetik atau sensasi yang telah ada. [6]
            Dari sini kita bisa menarik benang merah bahwa sebenarnya teori falsifikasi menitik-beratkan kita untuk senantiasa moderat dan demokratis dalam mengambil sebuah langkah dan keputusan.
            Sebagai contoh sikap moderat dan demokratis dari Popper adalah ketika semua masyarakat Eropa menganggap bahwa semua Angsa berwarna putih, padahal ternyata ada sebagian kecil Angsa yang berwarna hitam. Maka kesimpulannya adalah observasi akan mematahkan pendapat yang mayoritas. Cara ini merupakan cermin dari pertikaian kecil antara rasionalisme yang mengandalkan akal dan ternyata mampu digulingkan melalui bukti empirisme dengan penelitian walaupun tentunya akan banyakn orang yang mencibir atau menertawakan.
            Metode yang dilakukan oleh Popper  sesuai dengan kriteria yang disepakati para ilmuan dengan mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, langkah dan tekhnisnya. Hal ini sebagaia prosedur untuk mencari pengetahuan yang baru serta meninjau kembali pengetahuan yang pernah ada. [7]
            Lebih rinci dan mudah difahami, Sastrapratejda menyebutkan bahwa prinsip falsifikasisme Popper[8] adalah :

1.      Menolak bahwa suatu teori dirumuskan dan dibuktikan melalui paham verifikasi (pembenaran) sebagaimana yang dianut oleh kaum positivistik. Alasannya karena tidak ada kebenaran akhir dalam teori ilmiah.
2.      Menekankan langkah observasi (pengamatan), karena obsevasi merupakan hal sangat urgent dalam meneliti gejala yang sedang diseliliki. Dan hal ini jarang sekali dilakukan oleh ilmuan, sebab kebanyakan dari mereka ‘ikut arus’ dengan pembenaran yang dilakukan sekelompok orang lain.
3.      Menawarkan jalan falsifikasisme melalui pernyataan yang dapat dibuktikan dan tidak condong pada pembenaaran semata.

3 Dunia ala Popper
            Berbicara tentang Popper, maka kita tidak boleh lepas dari analisa pria yang dilukiskan sebagai decidedly bookish, sangat akrab dengan buku.
            Popper mendengungkan istilah 3 dunia pada pidato yang disampaikan di University of MIchigan, pada 7 April 1978. Maksud dari 3 dunia yang terkenal itu adalah dunia 1 yang berisi simbol fisik, contoh kayu, buku, batu dan lain-lain. Sedangkan dunia 2 merupakan dunia proses atau pengalaman, jadi semua proses berpikir yang bersifat konkret masuk ke dunia 2. Adapun dunia 3 digambarkan sebagai dunia yang berisi hasil pemikiran manusia. seperti contohnya: teori, karya tulis, lagu, atau apapun juga yang lahir dari pemikiran.
            Tashilan sebagai sample  yaitu adanya sebuah buku, secara fisik buku masuk pada katagori dunia 1, tetapi isi dari buku itu merupakan dunia 3. Nah, seandainya kita membakar buku tersebut, otomatis dunia 1 akan hangus dan tidak ada lagi wujudnya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa ide atau maksud dari buku tersebut masih dalam otak pembaca (dunia 3) dan dapat berpindah ke dunia 2.
            3 dunia inilah yang pernah mengguncang dunia dan membuka mata para ilmuan tentang analisa filsafat yang kemudian sedikit demi sedikit diadopsi oleh para psikolog. [9]

Relevansi Falsifikasisme Dengan Pemikiran Islam
            Kalau mau berbicara jujur, sebenarnya teori yang diprakarsai oleh Popper sejatinya sudah ada sejak periode keemasan Islam. Dimana banyak intelektual muslim yang memiliki karakter sama dengan Popper, yakni moderat dan demokratis serta lebih menjunjung tinggi sikap netral dan independensi tinggi atau tidak berpihak pada satu kelompok maupun kelompok lain.
            Islam yang memiliki nilai murunah (fleksibel) dan sa`ah (keleluasaan) tentunya sangat memiliki relevansi kuat dengan teori falsifikasisme yang moderat.
            Berikut beberapa nash yang berhasil penulis kumpulkan dari berbagai sumber memiliki relevansi dengan pemikiran Popper :

1.      Al-Quran yang merupakan pedoman ummat islam telah menyebutkan falsifikasisme dalam surat al-Baqarah ayat 143 yang berkisah tentang tantangan untuk menjadi netral dan indepentent dan seruan untuk menjadi saksi atas kebenaran Muhammad SAW.

y7Ï9ºxx.ur öNä3»oYù=yèy_ Zp¨Bé& $VÜyur (#qçRqà6tGÏj9 uä!#ypkà­ n?tã Ĩ$¨Y9$# tbqä3tƒur ãAqߧ9$# öNä3øn=tæ #YÎgx©
2.      Seorang pemikir muslim yang dinilai telah membidani teori falsifikasi adalah Ibn Hazm, Ibn Hazm dianggap menakjubkan, karena memunculkan dan mengulas masalah yang tujuh abad setengah lamanya kemudian diulas ulang oleh  Kant dan Popper mengenai hal independentsi.
       Mari kita simak apa yang menjadi landasan utama Ibn Hazm dalam mencari kebenaran, hal ini persis seperti metode Popper
a.       Persepsi syahadaat al-hawaas yakni melalui observasi
b.      Persepsi Badiihat al-`aql atau bisa difahami sebagai pemahaman melalui akal rasional
c.       Persepsi Burhaan yang bisa kita maknai sebagai bukti dari kebenaran antara observasi dan akal.[10]
3.      Berikutnya,  tidak salah bila kita menukil usaha dari Abu Hanifah yang berusaha keras untuk mengharmonisasikan pendapat kaum Qadariyyah dan Jabariyyah dengan pendekatan Taufiq.
       Abu Hanifah berpendapat bahwa barang kali kita mengira bahwa keputusan Allah bersifat final (qadar), padahal ini tidak mungkin. Sebab Allah telah memberikan ancaman kepada pendosa dan memberikan janji pada orang yang baik, dan hal ini berarti kita memiliki usaha (jabar) untuk mengubah nasib sedemikian lebih baik.[11]
4.      Kemudian yang tak kalah menarik adalah corak dan pemikiran dari Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi al-Anshari al-Hanafi, atau yang lebih populer dengan al-Maturidi.
       Seorang intelektual muslim yang terkenal mahir dalam bidang tafsir, kalam dan ushul ini ternyata memiliki metode dan pandangan yang sama dengan Popper, dia berpendapat bahwa cara mendapatkan kebenaran dan ilmu pengetahuan mempunyai setidaknya tiga metodologi :
a.       Al-A`yaan  yaitu dengan organ-organ indera
b.      Al-Akhbaar  yakni melalui keterangan (observasi)
c.       Al-Nazhar  yang bisa kita fahami sebagai pandangan final yang dihasilkan dari organ indera dan observasi.[12]
5.      Lalu ada pula tokoh intelektual muslim yang namanya sangat ma`ruf dan masyhur telah membahas teori Popper ini. Beliau adalah Yusuf Qardhawi. Dalam pandangannya terhadap kaum moderat, beliau menulis teori yang sangat terkenal, yaitu teori tawaazun, prinsipnya ialah bersikap ditengah-tengah dan seimbang antara aspek yang berlawanan dan kemudian mengambil intisari yang terbaik dari keduanya, bahkan mengkombinasikan keduanya menjadi hal yang lebih baik.[13]
       Yusuf Qardhawi memberikan contoh tawaazun dalam dua aspek yang berseberangan, individual dan kolektiv misalnya, dari kedua perbedaan ini kita bisa membuka ruang masing-masing aspek dengan terbuka, luas dan jelas tentang nilai plus dan minusnya, kemudian memberikan hak yang tidak lebih dan tidak kurang, lalu dipadukan menjadi satu kesatuan yang lebih ahsan.
6.      Hal senada disampaikan Muhammad Abduh yang menarik kiranya bila kita simak dan renungkan, sebab hal ini  secara tidak langsung bersinggungan dengan teori Popper, yaitu “Nata’âwan ‘alâ mâ nattafiq, wa natasâmah fîmâ nakhtalif”. Mari kita bahu-membahu dalam hal-hal yang disepakati dan bersikap toleran dalam hal-hal yang menjadi perbedaan pendapat.[14]
       Pendapat ini diutarakan Muhammad Abduh saat melihat fenomena Islam trans nasional yang mulai membumi dan mengakar, dimulai dari lahirnya Ikhwan al-Muslimin yang berhulu di Mesir, Syiah yang dimotori Iran, dan arus Wahabi yang disokong Arab Saudi. Dalam perjalanannya, gerakan Islam trans nasional acap ‘di persimpangan jalan’ antara bentuk reformis dan bentuk revolusioner; antara tujuan mereislamisasi umat, dan tujuan merengkuh kekuasaan negara.
       Dari sinilah perkataan bijak Muhammad Abduh bisa kita fahami sebagai metodologi melihat, mempertimbangkan dan mengambil kesimpulan yang paling benar.
7.      Tidak hanya itu saja, beberapa ahwal yang mencerminkan karakter Popper sudah ada ketika nabi bersabda bahwa paling baiknya manusia adalah wasathal qaum ( golongan yang netral). [15]

Kesimpulan
            Untuk memberikan ilustrasi tentang kesimpulan falsifikasi ini, cukuplah kita merenungkan secara romantis seorang penyair Arab pernah melantunkan syair yang intinya ialah mengharap posisinya berada di tengah-tengah rombongan saat bepergian, sebab dia sudah tua dan memiliki kuda yang liar[16], luar biasa bukan ?

إذا رَحَلتُ فاجعَلُوني وَسَطا         ** إني كبيرٌ لا أُطيقُ العِنَادًا
            Nah, Popper yang menganggap dirinya sudah ‘banyak makangaram’ dengan falsifikasinya, mengajak kita tidak terjebak pada satu lubang dikotomi, tapi dia berusaha ‘mengawinkan’ dua perbedaan (rasionalis dan empiris) untuk melahirkan sebuah ‘bayi’ (falsifikasi) sehingga munculah mujaddid dalam khazanah perkembangan pemikiran yang bisa dicerna semua golongan.



Daftar Bacaan
               
            Abdullah Hakam Shah, Islam Transnasional ; Dari Ancaman Menjadi Alternatif  (Surabaya:Jurnal FKMSB Vol III, 2009) Hal. 3
            Alfons Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl Popper  (Jakarta: Gramedia Press, 1991) Hal. 18
            Isham al-Basyir, Khusuushiyyat al-Hadhaarah al-Islamiyyah al-Wasathiyyah. (Kuwait : Idaarah Tsaqaafiyyah, TT)Hal.  16 - 17
            M.M. Sharif, Aliran-Aliran Filsafat Islam  (Bandung : Nuansa Cendikia, 2004)  Hal. 166
            Rizal Mustansir dan Misnal Munir,  Filsafat Ilmu  (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008)  Hal. 16
            Roberta Corvi, An Introduction to the Thought of Karl Popper, translated by Patrick Camiller (London dan New York, 1997) Hal. 16. Dalam artikel ;Karl Popper dan Masa Depan Masyakat. Amin Mudzakkir 16 Januari 2012
            Sastrapratedja, Manusia Multi Dimensolan : Sebuah Renungan Filsafat  (Jakarta : Gramedia Press, 1982) Hal. 87-88
            The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu  (Yogyakarya : Liberty, 1996)  Hal. 110
            William A. Gorton, Karl Popper and the Social Sciences (Albany: State University of New York Press, 2006)  Hal. 1
            William Berkson dan John Wettersen, Psikologi Belajar dan Filsafat Ilmu Karl Popper (Yogyakarta : Qalam, 1994) Hal. 4



                [1] Rizal Mustansir dan Misnal Munir,  Filsafat Ilmu  (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008)  Hal. 16
                [2] William A. Gorton, Karl Popper and the Social Sciences (Albany: State University of New York Press, 2006)  Hal. 1
                [3] Roberta Corvi, An Introduction to the Thought of Karl Popper, translated by Patrick Camiller (London dan New York, 1997) Hal. 16. Dalam artikel ;Karl Popper dan Masa Depan Masyakat. Amin Mudzakkir 16 Januari 2012
[4] Alfons Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl Popper  (Jakarta: Gramedia Press, 1991) Hal. 18
                [5] Roberta Corvi, An Introduction to the Thought of Karl Popper, translated by Patrick Camiller (London dan New York, 1997) Hal. 16. Dalam artikel ;Karl Popper dan Masa Depan Masyakat. Amin Mudzakkir 16 Januari 2012
                [6] William Berkson dan John Wettersen, Psikologi Belajar dan Filsafat Ilmu Karl Popper (Yogyakarta : Qalam, 1994) Hal. 4
                [7] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu  (Yogyakarya : Liberty, 1996)  Hal. 110
                [8] Sastrapratedja, Manusia Multi Dimensolan : Sebuah Renungan Filsafat  (Jakarta : Gramedia Press, 1982) Hal. 87-88
                [9] Alfons Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah Menurut Karl Popper..........  Hal. 95
                [10] M.M. Sharif, Aliran-Aliran Filsafat Islam  (Bandung : Nuansa Cendikia, 2004)  Hal. 166
                [11] M.M. Sharif, Aliran-Aliran Filsafat Islam........ Hal.  147
                [12] M.M. Sharif, Aliran-Aliran Filsafat Islam........ Hal.  102
                [13] Isham al-Basyir, Khusuushiyyat al-Hadhaarah al-Islamiyyah al-Wasathiyyah. (Kuwait : Idaarah Tsaqaafiyyah, TT)Hal.  16 - 17
                [14] Abdullah Hakam Shah, Islam Transnasional ; Dari Ancaman Menjadi Alternatif  (Surabaya:Jurnal FKMSB Vol III, 2009) Hal. 3
                [15] Isham al-Basyir, Khusuushiyyat al-Hadhaarah al-Islamiyyah al-Wasathiyyah .... Hal. 12
                [16] Isham al-Basyir, Khusuushiyyat al-Hadhaarah al-Islamiyyah al-Wasathiyyah .... Hal. 13