Beasiswa?kenapa tidak...

 Pusat Info Beasiswa

Jumat, 11 Juni 2010

Be eM

Malam itu Inbox HPku berdering, lantunan merdu barakallahnya Maher Zain menggema membangunkan lamunanku. "tolong tuliskan artikel untuk buletin Mediasi HMI Fak. Adab IAIN Surabaya" pesan dari kawan Sholeh -- si aktifis ALBA -- telah ku baca dengan cepat.


"saya kurang lihai dalam tulis menulis" balasku singkat. "wah, ayo dunk akh! dan kalau bisa temanya Kebangkitan, sebab besok momemtum kebangkitan nasional" sholeh membalas plus dengan bumbu paksaan.


"Okelah, saya tulis dulu". balasku serius


Akhirnya coretan kecil itu ada didepan anda sekarang, selamat membaca:


Membentuk Nahdlatul Ummat demi tercapainya Ni`matul Ummat


Perlu kita ketahui bahwa Kebangkitan nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting, yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Tokoh-tokoh kebangkitan nasional, antara lain: Soetomo, Gunawan, Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryoningrat (Ki Hajar Dewantara) dan tokoh-tokoh lainnya

Melalui coretan kecil yang tersusun tepat pada momen hari Kebangkitan nasional, saya berharap tulisan ini mampu membangunkan tidur panjang masyarakat Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya. Terutama pada generasi mahasiswa yang semakin hari semakin dipertanyakan pula nilai–nilai perjuangannya terhadap pembangunan bangsa dan keikutsertaannya dalam mencerdaskan rakyat Indonesia.

Melalui momentum Hari Kebangkitan nasional, hendaknya kobaran semangat harus disampaikan pada penerus bangsa ini (baca: mahasiswa), sebab aroma keilmuan yang mesti dituangkan pada pengabdian dan pergerakan seakan–akan terkikis dan hilang karena kecenderungan terlena dalam lembah hayalan dan status quo belaka.

Hati saya sering menangis kala teringat mengikuti LK Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) karena pertanyaan seorang kanda—Soekarno pada waktu umurnya belasan tahun sudah menjadi sekretaris Jong Java, Soedirman pun yang ketika itu masih belia sudah sering memimpin peperangan dan Hatta dengan umur yang sejagung pula sudah mampu menyiapkan kemerdekaan serta kegigihan tokoh lain dalam menggagas berdirinya Republik Indonesia yang merdeka dari berbagai macam bentuk penjajahan. Lantas apa yang bisa kalian lakukan ????. Ibarat disambar petir kalimat kanda tadi terus menjadikan cemeti semangat dalam batin kami para kader

Sejak saat itulah saya yakin dan ingin merasakan bagaimana kebangkitan jiwa perjuangan Nurcholis Madjid ketika konsepnya untuk mencerdaskan bangsa ditolak para kelompok yang kurang setuju pada opininya; saya juga ingin merasakan bagaimana kebangkitan Soekarno ketika membacakan teks Proklamasi yang disambut haru jutaan rakyat; ingin pula saya rasakan kebangkitan Imam Bukhori ketika mengembara mencari hadits dan keabsahannya hanya demi perubahan kehidupan, menyusuri pedalaman dan perkotaan dari kota Bukhara` sampai ke pinggiran Madinah; saya sangat ingin juga merasakan kebangkitan Muhammad al Fatih ketika berhasil menaklukkan Istanbul; kebangkitan Umar al Faruq ketika memperluas wilayah Islam pun ingin saya rasakan. Tidak hanya itu, semangat kebangkitan Muhammad ketika berhasil menjadikan masyarakatnya menjadi masyarakat madani, juga menjadi keinginan besar saya.


Tentunya bukan hal yang sangat mudah untuk membentuk sebuah keberhasilan dengan modal kebangkitan saja, namun memerlukan sejuta perjuangan lain agar tercipta mimpi yang pernah menjadi kembang kehidupan dari seluruh elemen masyarakat ini. Bukan saja pemerintah yang menjadi nahkoda, akan tetapi peran para kaum akademisi juga sangat berpengaruh, peran para aktifis juga harus digalakkan serta peran kita sebagai mahasiswa yang mempunyai amanah sebagai agent of change sangat menentukan nasib Indonesia seperti sebuah petuah yang luar biasa “ pemuda hari ini adalah pemimpin pada hari kemudian”

Kenyamanan hidup yang menjadi tujuan bersama sebuah Negara tidak akan pernah tercapai kecuali dengan kebangkitan bersama seluruh lapisan masyarakatnya, kemakmuran senantiasa akan dirasakan bila masyarakat bangkit dan sadar dalam melakukan segala bentuk aktifitasnya, kedamaian akan terwujud andai pihak pihak yang merasa selalu kurang faham bahwa mereka mesti bersyukur atas apa saja yang telah mereka dapat dengan bercermin kebawah,bukan sebaliknya, toleransi akan semakin berwarna apabila cacian, makian dan rasa iri tidak menjadi tolak ukur sebuah kehidupan

Akhirnya, saya teringat pada wasiat seorang Montaigne : masyarakat itu agaknya gila. Ia mustahil dapat menciptakan seekor ulat sekalipun, tapi mereka bisa menciptakan lusinan tuhan. Artinya, dengan keangkuhannnya, manusia memang sulit sekali menciptakan sebuah keserasian dalam ama` ma`ruf dan nahi munkar, namun dengan rasa kebangkitan, pasti mereka akan mampu berbuat yang lebih baik untuk kehidupan pada masa berikutnya, jadi tidak pernah akan tercipta sebuah ni`matul ummat kecuali diawali dengan nahdlatul ummat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

huh,